Terbenamnya matahari terakhir di tahun 2025 ini, bukan dengan amarah, melainkan dengan keheningan yang syahdu. Di ambang pergantian tahun, kita berdiri di antara dua dimensi waktu, masa lalu yang penuh dengan jejak duka dan masa depan yang kita songsong dengan tinta harapan.
Tahun ini, kita telah berjalan menyusuri lorong-lorong gelap sejarah bangsa. Ada air mata yang tumpah di tanah-tanah kering, ada isak tangis yang tertahan di balik dinding rumah-rumah sempit, ada doa-doa yang diterbangkan ke langit dari mereka yang kehilangan.
Namun, saat lonceng tahun baru berdentang, kita sepakat untuk satu hal, semoga duka itu cukup sampai di sini. Duka Aceh dan Sumatra tidak akan ikut menyeberang ke tahun yang baru. Malam pergantian tahun ini bukanlah panggung tragedi, melainkan altar suci untuk meletakkan harapan baru.
Ketika melihat ke belakang, jejak duka Indonesia sering kali berwajah ganda, bencana yang dihantarkan oleh alam dan nestapa yang diciptakan oleh ketimpangan sosial.
Namun, visi kita untuk tahun 2026 adalah sebuah antitesis dari sejarah kelam tersebut. Kita membayangkan sebuah tahun di mana definisi "sejahtera" tidak lagi menjadi milik segelintir elite, melainkan menjadi oksigen yang dihirup oleh seluruh rakyat Indonesia.
Dalam bayangan tahun 2026 yang ideal ini, kita melihat para pemimpin bangsa hidup sejahtera. Namun, kesejahteraan mereka bukanlah hasil dari mengakali hak orang lain, melainkan buah dari keberhasilan mereka memimpin peradaban.
Kesejahteraan pemimpin di tahun 2026 adalah cerminan langsung dari kemakmuran rakyatnya.
"Tidak ada lagi paradoks di mana istana gemerlap sementara gubuk rakyat gelap gulita. Rakyat hidup makmur dan terjamin, inilah inti dari harapan baru tersebut"
"Makmur" di tahun 2026 bukan sekadar statistik pertumbuhan ekonomi yang membingungkan, melainkan kenyataan yang terhidang di atas meja makan setiap keluarga. Jaminan sosial bukan lagi sekadar janji kampanye atau prosedur birokrasi yang berbelit, melainkan jaring pengaman yang nyata.
Petani tersenyum karena harga panen yang adil, buruh bekerja dengan upah yang memanusiakan, dan anak-anak sekolah menimba ilmu tanpa dihantui bayang-bayang putus sekolah karena biaya. Kesejahteraan rakyat adalah fondasi, ketika fondasi itu kuat, maka pilar-pilar kepemimpinan pun berdiri dengan gagah dan bermartabat.
Lebih jauh lagi, tahun 2026 dalam doa kita adalah tahun ketika alam bersahabat dengan manusia. Kita menutup lembaran duka akibat bencana alam yang kerap merenggut nyawa dan harta benda. Di tahun harapan ini, tidak ada lagi tanah longsor yang mengubur mimpi, tidak ada banjir bandang yang menghanyutkan masa depan, dan tidak ada gempa yang meruntuhkan tempat bernaung. Kita membayangkan sebuah harmoni ekologis di mana manusia merawat alam, dan alam menjaga manusia. Mitigasi bencana telah menjadi budaya, dan teknologi digunakan bukan untuk merusak, melainkan untuk melindungi.
Indonesia di tahun 2026 adalah zamrud khatulistiwa yang sesungguhnya hijau, damai, dan aman dari amukan alam. Langit cerah menaungi nusantara, memberikan rasa aman bagi setiap jiwa untuk tidur lelap tanpa rasa was-was akan bencana yang datang tiba-tiba.
Namun, dari semua harapan fisik dan material tersebut, ada satu hal yang paling fundamental bagi jiwa bangsa ini, yakni kebebasan dan martabat kaum marjinal. Jejak duka yang paling perih di masa lalu sering kali berasal dari intimidasi dan intervensi terhadap mereka yang dianggap "berbeda" atau "kecil".
Maka, tahun baru ini membawa resolusi mutlak. Di tahun 2026, tidak ada lagi ruang bagi intimidasi. Kaum marjinal baik itu minoritas agama, suku, kelompok rentan, maupun mereka yang terpinggirkan secara ekonomi berdiri sejajar dengan kepala tegak. Tidak ada lagi intervensi kekuasaan yang membungkam suara kritis atau menekan hak-hak dasar warga negara. Hukum berdiri tegak sebagai pelindung, bukan sebagai alat pemukul bagi yang kuat terhadap yang lemah.
Tahun 2026 adalah tahun inklusivitas total. Keberagaman dirayakan sebagai orkestra yang indah, bukan sebagai alasan untuk memecah belah. Negara hadir bukan untuk mengawasi dengan curiga, melainkan untuk melayani dengan cinta.
Setiap warga negara, tanpa memandang latar belakang, memiliki hak yang sama atas rasa aman, keadilan, dan kesempatan. Kaum yang selama ini terpinggirkan akan menemukan tempatnya di tengah gelanggang pembangunan, bukan lagi di pinggiran sejarah.
Pada akhirnya, harapan ini adalah sebuah do'a sekaligus tuntutan. Kita meninggalkan jejak duka bukan untuk melupakannya, tetapi untuk menjadikannya pelajaran bahwa kita tidak boleh kembali ke sana.
Tahun 2026 yang kita songsong adalah tahun cahaya. Di sana, pemimpin dan rakyat duduk sama rendah berdiri sama tinggi dalam kemakmuran, alam merestui langkah kita dengan kelembutan, dan kemanusiaan dijunjung tinggi tanpa intimidasi.
Inilah wajah Indonesia yang kita impikan, sebuah bangsa yang telah sembuh dari luka, berjalan gagah menuju takdir kebesarannya.