Aku hanyalah pendatang baru di dunia literasi, sebuah dunia yang tampak berkilau oleh kata, diselimuti aroma tinta, dan dipenuhi oleh orang-orang yang pandai menyusun huruf menjadi makna.
Dunia ini diisi oleh para terpelajar, para pemilik gelar yang panjang, para budayawan yang tutur katanya halus dan sarat makna. Mereka terbiasa berbicara dengan kalimat berlapis-lapis makna, menulis dengan struktur yang nyaris sempurna, dan membaca dengan pemahaman yang dalam.
Sedangkan aku, hanya anak kemarin sore alias anak bawang yang masih gagap menata kata, masih kaku memintal kalimat, dan masih sering tersesat dalam labirin diksi yang kubangun sendiri.
Terkadang aku merasa asing di antara mereka. Aku sering bertanya dalam hati, apakah aku pantas berada di sini? Dunia literasi seakan bukan tempatku. Aku tidak punya latar pendidikan yang tinggi, tidak pernah duduk di bangku kuliah sastra, tidak memiliki guru yang membimbing dalam menulis.
Aku hanya manusia biasa yang menulis untuk menenangkan batin, bukan untuk mendapat pujian. Tapi di tempat ini, semua terasa berbeda. Di sini, tulisan menjadi ukuran intelektualitas, kata menjadi simbol kebangsawanan pikiran. Aku, dengan tulisan yang masih berantakan, sering merasa kecil, seperti semut di tengah para singa.
Namun setiap kali perasaan itu datang, aku mencoba mengingat alasan mengapa aku menulis. Aku menulis bukan untuk menunjukkan kepandaian, melainkan untuk menyembuhkan. Menulis bagiku adalah cara berbicara ketika dunia terlalu bising untuk mendengar. Mungkin tulisanku belum rapi, belum indah, bahkan mungkin belum pantas disebut karya. Tapi di balik setiap kata yang kutulis, ada jiwaku yang berjuang untuk tetap hidup, ada pikiranku yang berusaha memahami dunia, dan ada hatiku yang ingin berbagi meski dengan cara sederhana.
Sering kali aku merasa tersesat. Di ruang-ruang diskusi literasi, orang-orang berbicara tentang teori, semiotika, atau makna simbolik dalam karya sastra besar. Sementara aku hanya mampu menulis cerita sehari-hari, tentang hujan yang turun tanpa aba-aba, tentang rasa rindu yang tak terucap, atau tentang luka yang sembunyi di balik senyum.
Aku takut, tapi juga tidak ingin menyerah. Aku sadar, setiap penulis pernah menjadi pendatang baru. Setiap karya besar berawal dari tulisan yang dianggap remeh. Dan setiap langkah, betapapun kecilnya, adalah bagian dari perjalanan menuju pemahaman yang lebih dalam. Ada kalanya aku merasa ditolak oleh dunia yang kucintai ini. Tulisan-tulisanku sepi pembaca.
Jangankan diapresiasi, dilirik pun tidak. Aku menulis, mengunggah, lalu melihatnya tenggelam tanpa jejak. Pernah, dalam keheningan malam, aku mendengar bisikan dari alam bawah sadarku sendiri, mengejekku dengan suara sinis, “Tulisanmu tak bermakna, hanya Ngebacot loh.” Sungguh, kata-kata itu menusuk lebih tajam daripada kritik siapapun. Ibarat luka, namun tak mengalirkan darah, perih seperih-perihnya.
Tapi aku tahu, itu bukan suara orang lain, itu adalah ketakutan yang bersemayam di dalam diriku sendiri. Aku mencoba berdamai dengan rasa kecil itu. Aku pembelajar yang belajar memahami bahwa menulis bukan tentang siapa yang membaca, melainkan tentang keberanian untuk terus bercerita.
Dunia literasi bukan hanya milik para bangsawan intelektual, tapi juga milik mereka yang tulus menggoreskan kata dari hati. Mungkin aku belum layak disandingkan dengan para sastrawan besar, tapi aku sedang belajar menjadi diriku sendiri melalui tulisan. Dan kepada "bidadari dari istana raja yang berkarisma" entah siapa dia dalam imajinasiku, aku berterima kasih. Mungkin dari ucapannya yang tajam, aku belajar arti keteguhan.
Mungkin dari tatapannya yang acuh, aku belajar untuk tidak lagi menulis demi pengakuan. Kini aku sadar, menulis bukan soal seberapa banyak yang memuji, tapi seberapa jujur kita menyampaikan isi hati. Aku memang pendatang baru di dunia literasi.
Aku masih belajar, masih mencari bentuk, masih merangkai makna dari kata yang berantakan. Tapi aku percaya, setiap pendatang baru punya tempatnya sendiri. Dan suatu hari nanti, mungkin tulisanku yang sederhana ini akan menemukan pembacanya, seseorang yang melihat bukan pada keindahan diksi, tapi pada ketulusan di baliknya.