Ketika ASN Muda Mulai Bertanya: “Haruskah Saya Bertahan?”

Gambar sampul Ketika ASN Muda Mulai Bertanya: “Haruskah Saya Bertahan?”

Awalnya saya mengira itu cuma ocehan biasa.

Saya sedang membuka Threads ketika menemukan sebuah unggahan tentang ASN muda yang ingin resign.

Isinya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan percakapan yang sering muncul di media sosial: soal pekerjaan yang melelahkan, teman kantor yang toxic, penilaian kinerja yang dianggap tidak adil, sampai keinginan mencari lingkungan kerja yang lebih sehat.

Saya sempat berpikir, “Ah, paling cuma curhatan orang yang sedang tidak betah dengan kantornya.”

Namanya juga Threads.

Tempat orang bisa menumpahkan kekesalan dalam beberapa kalimat. Pagi mengeluh tentang kantor, siang kembali bekerja. Besoknya mungkin sudah lupa.

Tetapi kali ini saya berhenti scrolling

Ada sebuah angka yang membuat saya membaca lebih pelan.

2.722 ASN mengajukan pemberhentian atas permintaan sendiri sepanjang Semester I 2026.

Lebih menarik lagi, sekitar 58 persen di antaranya memiliki masa kerja 0–5 tahun. Data tersebut disampaikan BKN dan diberitakan dalam artikel Tirto.id berjudul “Tak Menunggu Pensiun, Mengapa Sebagian ASN Muda Memilih Resign?”

Saya kemudian berpikir, jangan-jangan ocehan di Threads tadi memang bukan sekadar ocehan.

Mungkin ada sesuatu yang sedang terjadi.

Memang, angka 2.722 itu belum bisa dijadikan kesimpulan bahwa ASN muda sedang melakukan gelombang resign.

BKN sendiri menegaskan belum memiliki data yang menunjukkan adanya tren khusus ASN muda. Alasan pengunduran diri juga beragam.

Tetapi bagi saya, 2.722 tetaplah angka yang berisi cerita. Di belakang angka itu ada orang.

Ada anak muda yang mungkin dulu begitu bahagia ketika melihat namanya dinyatakan lulus seleksi ASN.

Ada orang tua yang menangis bangga.

Ada keluarga yang merasa anaknya akhirnya mendapatkan pekerjaan yang aman.

Ada pula yang mungkin pernah berkata kepada teman-temannya,

“Alhamdulillah, sudah jadi ASN. Tinggal kerja sampai pensiun.”

Tetapi beberapa tahun kemudian, orang yang sama mulai bertanya:

“Benarkah saya ingin menghabiskan puluhan tahun di sini?”

...

Ketika pekerjaan tidak lagi sebanding dengan penghargaan

Saya kemudian membaca komentar-komentar lain di Threads. Dan ternyata, keluhannya bukan cuma soal gaji.

Ada yang merasa penilaian kinerja tidak adil. Semua orang bisa mendapatkan predikat baik, sementara usaha dan hasil pekerjaan mereka sebenarnya berbeda.

Ada yang memilih prinsip sederhana: berangkat, bekerja, pulang.

Ada pula yang merasa bahwa menunjukkan terlalu banyak kemampuan justru bisa menjadi bumerang.

Karena ketika seseorang dianggap mampu, pekerjaan tambahan pun datang.

Lama-lama muncul sebuah candaan yang sebenarnya tidak lucu:

“Kalau bisa, jangan kelihatan terlalu bisa.”

Sebab yang bertambah kadang bukan penghargaan / finansial

Tetapi pekerjaan.

Di sinilah persoalan remunerasi ikut menjadi pembicaraan.

Bagi sebagian ASN, sistem penghasilan yang masih sangat terkait dengan kelas, jabatan, strata ijasah, lama kerja atau struktur organisasi dianggap belum selalu mencerminkan beban dan kompetensi yang benar-benar dikerjakan seseorang.

Seorang pegawai muda bisa saja mengerjakan pekerjaan yang secara substansi membutuhkan kompetensi tinggi.

Bahkan bisa mengerjakan pekerjaan yang selama ini menjadi wilayah jabatan fungsional yang lebih tinggi.

Tetapi ketika sampai pada penghargaan finansial, posisinya tetap dihitung berdasarkan kelas atau jabatan yang melekat padanya "Terampir", "Mahir", "Penyelia", “Ahli Pertama”

Akhirnya muncul pertanyaan yang sederhana tetapi mengganggu:

“Kalau pekerjaan dan tanggung jawab saya sudah seperti itu, mengapa penghargaan yang saya terima masih seperti staf biasa?”

Pertanyaan itu menjadi semakin kuat ketika seseorang tahu nilai kompetensinya akan diakui bila di luar birokrasi.

Seorang ASN yang memiliki kemampuan desain, komunikasi, teknologi informasi, digital marketing, videografi, fotografi, programming, analisis data, atau kemampuan profesional lainnya mungkin mengetahui bahwa keterampilan yang sama bisa dihargai jauh lebih mahal ketika ditawarkan di luar institusi pemerintah.

Di luar, kemampuan tertentu bisa dihargai sebagai keahlian khusus.

Di dalam birokrasi, bisa saja ia hanya dianggap sebagai:

“Harga Remunerasi Kamu hanya staff grade 4 atau 5”

Di situlah rasa tidak adil mulai tumbuh.

Bukan semata-mata karena ingin mendapatkan uang lebih banyak.

Tetapi karena manusia secara alami ingin merasa bahwa kemampuannya dihargai.

Dan ketika seseorang berkali-kali merasa kemampuannya tidak dihargai, pertanyaan tentang masa depan karier mulai muncul.

...

“Saya masuk sebagai apa, kok mengerjakan apa?”

Hal ini justru semakin terasa ketika saya membaca pengalaman Surti dalam artikel Tirto.id tersebut.

Surti, yang akhirnya memilih meninggalkan status ASN setelah sekitar tiga tahun mengabdi, bercerita bahwa ketika pertama kali masuk, pembagian pekerjaan untuk pegawai baru belum jelas.

Ia akhirnya mengerjakan berbagai tugas yang menurutnya tidak berhubungan dengan jabatan fungsional yang diembannya.

Masalahnya bukan sekadar mendapatkan pekerjaan tambahan.

Ada konsekuensi lain.

Job desk berhubungan dengan SKP, dan SKP berhubungan dengan perjalanan karier seorang ASN.

Kalau seseorang menghabiskan banyak waktu mengerjakan pekerjaan di luar tugas fungsionalnya, lalu bagaimana pekerjaan itu diterjemahkan menjadi kinerja yang dinilai?

Pertanyaan seperti ini mungkin terdengar sangat administratif. Tetapi bagi pegawai muda yang baru membangun karier, ini bukan persoalan kecil.

Mereka sedang mengumpulkan pengalaman.

Membangun portofolio.

Mengejar angka kredit atau capaian kinerja.

Berharap suatu hari bisa naik pangkat atau mendapatkan kesempatan karier yang lebih baik.

Ketika pekerjaan sehari-hari tidak nyambung dengan kompetensi dan jabatan yang dimiliki, lama-lama muncul perasaan:

“Saya sebenarnya sedang membangun karier atau hanya sedang menyelesaikan pekerjaan?”

Pengalaman Surti bahkan tidak berhenti pada persoalan job desk.

Dalam wawancara dengan Tirto, ia juga menceritakan beban kerja yang berat, harus siap bekerja kapan saja, persoalan lingkungan kerja, hingga persoalan yang membuatnya merasa tidak lagi nyaman melanjutkan pengabdian. Pada akhirnya ia memilih resign.

Tentu pengalaman satu orang tidak bisa mewakili seluruh ASN.

Tetapi cerita seperti ini membuat kita memahami bahwa keputusan resign biasanya tidak terjadi dalam satu malam.

Ada proses panjang sebelum seseorang akhirnya berkata:

“Sudahlah. Saya keluar.”

.....

Ketika “yang muda lebih pintar” justru menjadi hukuman

Di Threads, saya menemukan komentar lain yang juga terasa dekat dengan realitas kantor.

Ada yang mengeluhkan ketika pegawai senior mulai menyerahkan pekerjaan kepada pegawai muda dengan kalimat:

“Kan yang muda lebih pintar, lebih fresh, energy lebih banyak”

Kalimat yang sekilas terdengar sebagai pujian. Tetapi kalau terus-menerus terjadi, bisa berubah menjadi beban.

Yang muda akhirnya mengerjakan pekerjaan sendiri. Juga mengerjakan pekerjaan orang lain.

Bahkan terkadang menjadi orang yang menyelesaikan pekerjaan ketika deadline sudah dekat.

Tetapi ketika phari remunerasi tiba, belum tentu ia mendapatkan tambahan.

Kompetensi bisa membuat seseorang dipercaya, tetapi belum tentu membuatnya dihargai.

Dan ketika sistem tidak mampu membedakan orang yang bekerja lebih keras dengan orang yang sekadar hadir, rasa frustrasi menjadi semakin mudah tumbuh.

...

Birokrasi berhadapan dengan generasi yang berbeda

Ada satu kalimat dari narasumber dalam artikel Tirto yang menurut saya paling mengganggu pikiran.

Adib Miftahul menilai sebagian anak muda meninggalkan birokrasi karena merasa kompetensinya tidak dihargai.

Ia bahkan mengatakan bahwa anak-anak muda memiliki banyak inovasi, tetapi birokrasi yang berbelit dapat membuat mereka enggan terus berkarya bagi negara.

Saya rasa kalimat itu penting. Platform Srikandi saat ini hanya membuat birokrasi yang berbelit menjadi paper less, tidak ada perampingan birokrasi dalam persuratan, hanya berubah wajah.

Seperti tidak terjadi seperti yang digaung-gaungkan. Tidak semua pejabat mengambil tanggung jawab sendiri, harus tetap rame-rame.

Sebab mungkin persoalannya bukan karena generasi muda tidak mau bekerja. Mereka ingin bekerja dengan cara yang lebih cepat dan efisien.

Tetapi ketika setiap ide harus melewati terlalu banyak meja, terlalu banyak persetujuan, terlalu banyak kekhawatiran, dan terlalu banyak kalimat “dari dulu juga begini”, sebagian akhirnya memilih diam.

Sebagian yang lain memilih bertahan.

Dan sebagian mungkin mulai membuka laptop pada malam hari, memperbarui CV, lalu diam-diam mencari pekerjaan lain.

...

Jadi, apakah ASN muda memang ingin resign?

Saya kira jawabannya tidak sesederhana “iya”.

Data BKN menunjukkan 2.722 ASN mengajukan pemberhentian atas permintaan sendiri pada Semester I 2026, dengan 58 persen memiliki masa kerja 0–5 tahun.

Tetapi BKN juga menegaskan bahwa belum ada data yang menunjukkan fenomena tersebut sebagai tren khusus ASN muda. Alasan pengunduran dirinya pun beragam. 

Jadi kita tidak boleh buru-buru menyimpulkan bahwa generasi muda sudah tidak tertarik menjadi ASN.

Buktinya, seleksi ASN masih diminati.

Yang mungkin berubah adalah cara mereka memandang karier.

Dulu, pekerjaan ASN yang aman mungkin sudah cukup.

Sekarang, keamanan saja tidak selalu cukup.

Mereka ingin berkembang.

Mereka ingin dihargai.

Mereka ingin kompetensinya digunakan.

Mereka ingin mendapatkan imbalan yang terasa masuk akal dengan kontribusinya.

Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan hanya:

“Mengapa ASN muda resign?”

Tetapi:

“Apa yang membuat mereka sampai berpikir untuk resign?”

Sebab resign biasanya adalah keputusan terakhir.

Sebelumnya ada banyak hal kecil yang terjadi.

Ada ide yang tidak pernah didengar.

Ada pekerjaan yang tidak pernah dihargai.

Ada lingkungan kerja yang membuat lelah.

Dan mungkin yang paling berbahaya:

ada perasaan bahwa apa pun yang dilakukan, tidak akan mengubah keadaan.

Ketika perasaan itu sudah muncul, seseorang tidak perlu dimusuhi untuk pergi.

Ia hanya perlu menemukan alasan untuk berhenti bertahan. Bila Gen Z Resign, maka Gen X & Milenial menurunkan performanya.

...

Jangan sampai negara kehilangan orang-orang yang sebenarnya ingin berkarya

ASN sekarang juga manusia yang punya ekspektasi. Mereka punya pilihan.

Dan di zaman ketika informasi tentang peluang kerja ada di genggaman tangan, seorang pegawai tidak lagi hanya tahu berapa gajinya sendiri.

Ia bisa dengan mudah melihat berapa harga kompetensinya di luar sana.

Ia bisa membandingkan budaya kerja.

Ia bisa melihat peluang karier.

Ia bisa mengikuti cerita orang lain.

Dan akhirnya bertanya kepada dirinya sendiri:

“Kalau kemampuan saya dihargai lebih tinggi di tempat lain, mengapa saya harus tetap di sini?”

Pertanyaan itu mungkin tidak nyaman bagi birokrasi.

Tetapi justru pertanyaan seperti inilah yang perlu didengar.

Karena tujuan akhirnya bukan membuat semua ASN bertahan sampai pensiun.

Tujuannya adalah menciptakan birokrasi yang membuat orang-orang ingin bertahan karena merasa dihargai, berkembang, dan memiliki ruang untuk memberikan yang terbaik.

Dan kalau birokrasi tidak mampu memberikan ruang itu, jangan heran jika suatu hari orang-orang terbaik memilih mengetuk pintu di tempat lain.

Mereka bukan tidak ingin mengabdi.

Mungkin mereka hanya ingin pengabdiannya terasa berarti.

 

Bagikan :