Mengapa Gerakan RSKO Peduli Memilih Rehat Setelah 14 Tahun Berjalan?

Gambar sampul Mengapa Gerakan RSKO Peduli Memilih Rehat Setelah 14 Tahun Berjalan?

Ada satu pertanyaan yang beberapa bulan terakhir cukup sering muncul. "Gerakan RSKO Peduli sekarang masih aktif ?"

Memang Kami sedang mengalami perlambatan, beberapa penggerak sakit berat, ada yang fokus dengan keluarga, ada yang memiliki aksi sosial sendiri,ada yang  begitu sibuk dengan pekerjaannya, dan beberapa hal lain yang membuat kami seperti terhenti.

Daku (Saya) biasanya terdiam beberapa saat sebelum menjawab.

Karena pertanyaan itu ternyata membawa Daku kembali ke banyak kenangan yang selama ini tersimpan rapi di kepala.

Kompasianival 2012 (sumber foto : Kompasiana)

Kenangan tentang perjalanan panjang yang dimulai 14 tahun lalu – 17 November 2012, diketuk oleh Coin A Chance di Kompasianival 2012.

Tentang orang-orang yang memilih bergerak bukan karena dibayar, bukan karena ditugaskan, dan bukan karena ingin dikenal.

Mereka hanya percaya bahwa hidup akan lebih bermakna jika sedikit waktu, tenaga, dan rezeki yang mereka miliki bisa dibagikan kepada orang lain.

Adik Asuh Coin A Chance (Sumber foto : Coin A Chance)

Dari keyakinan sederhana itulah Gerakan RSKO Peduli lahir, yang awalnya Gerakan Coin Untuk Pendidikan RSKO Jakarta yang berafiliasi dengan Coin A Chance.

Saat itu tidak ada grand design. Tidak ada target tahunan. Tidak ada mimpi besar untuk menjadi gerakan sosial yang terkenal.

Yang ada hanyalah beberapa orang dengan kegelisahan yang sama.

Saya masih ingat nama-nama yang ikut menyalakan api kecil itu di awal perjalanan (2012), ada Hidayatullah (Dayat) ada Hani Titi Sari (Hani).

Orang-orang yang rela meluangkan waktu di sela pekerjaan, keluarga, dan urusan pribadinya untuk mengurus kegiatan sosial yang bahkan sering kali menguras tenaga dan pikiran.

Kami belajar bersama.

Kami jatuh bangun bersama.

Kami mengumpulkan bantuan dengan cara yang sangat sederhana – celengan.

Kami mengetuk satu per satu pintu kebaikan.

Dan yang paling penting, kami percaya bahwa sekecil apa pun bantuan yang diberikan (Coin), selalu ada manfaat yang bisa dirasakan orang lain.

Tahun demi tahun berlalu. Api kecil itu ternyata tidak padam.

Ia justru tumbuh. Dari 3 orang menjadi 15 penggerak : Agan, Dayat, Robbi, Hari, Heri, Henri, Sumardiono, Kelli, Dyah, Aep, Febri, Rusdianto, Arif, Wahyu, Lisa

Dari satu kegiatan menjadi puluhan kegiatan.

Dari puluhan kegiatan menjadi ratusan aksi sosial.

Kami hadir saat bencana datang.

Kami berbagi dengan anak yang butuh biaya pendidikan.

Kami mengunjungi mereka yang sakit.

Kami mengumpulkan bantuan ketika keluarga besar RSKO Jakarta yang membutuhkan.

Kami menssuport donor darah.

Kami bertemu begitu banyak orang yang mengajarkan bahwa kemanusiaan selalu punya cara untuk menemukan jalannya.

Mengunjungi yang Sakit (Sumber Foto : Dokpri)

Empat belas tahun.

Kalau dipikir-pikir sekarang, angka itu bukan angka yang sebentar.

Ada anak-anak yang dulu kami temui masih duduk di bangku sekolah dasar, kini sudah menjadi orang dewasa (kuliah).

Ada penggerak yang dulu masih staff, sekarang sudah menjadi pejabat.

Ada sahabat seperjuangan yang kini telah berada di tempat kerja lain (Hani Titi Sari).

Bahkan ada beberapa yang memutuskan berpisah, tidak bergabung sebagai penggerak.

Namun satu hal yang sering tidak dilihat banyak orang adalah bahwa di balik sebuah gerakan sosial, ada manusia-manusia biasa.

Bukan superhero.

Bukan mesin yang bisa bekerja tanpa henti.

Ada masa ketika ide mengalir deras. Ada masa ketika semangat begitu besar.

Tetapi ada juga masa ketika kami diminta istirahat.

Ada masa ketika kami bingung harus melakukan apa berikutnya. Ada masa ketika energi terasa habis. Ada masa ketika kehidupan pribadi meminta perhatian lebih besar.

Dan itu manusiawi.

Belakangan ini Daku sering merenung. Mengapa kita merasa bersalah ketika memutuskan beristirahat ?

Mengapa sebuah gerakan sosial seolah harus selalu ada, selalu aktif, selalu bergerak? 

Padahal sejak awal kami bergerak bukan karena kewajiban. Kami bergerak karena keikhlasan. Dan sesuatu yang lahir dari keikhlasan seharusnya tidak berubah menjadi tuntutan.

Tidak ada yang berutang kepada kami. Dan kami pun tidak berutang kepada siapa pun.

Penyerahan Donasi (sumber foto : dokpri)

Jika selama ini ada manfaat yang dirasakan keluarga besar RSKO Jakarta dari kegiatan-kegiatan RSKO Peduli, maka itu adalah bonus indah dari sebuah niat baik yang dipertemukan dengan banyak tangan baik lainnya.

Karena itu, setelah perjalanan selama 14 tahun, kami memutuskan untuk rehat.

Keputusan ini tidak lahir dalam satu malam. Ia lahir dari banyak percakapan. Dari banyak perenungan. Dari kesadaran bahwa mungkin saat ini kami perlu berhenti sejenak untuk mengatur napas. Bukan karena kehilangan kepedulian.

Bukan karena tidak lagi peduli pada sesama. Tetapi karena kami juga manusia. Dan manusia berhak mengatur nafas. Manusia berhak beristirahat. Manusia berhak mengambil jeda.

Ada satu kalimat yang belakangan terus terngiang di kepala Daku.

Hari Perhitungan Donasi (Sumber Foto : dokpri)

Kalau kita terus berada di depan, bisa jadi kita justru menghalangi mereka yang seharusnya maju. Ada KORPRI, ada Kelompok Keagamaan, ada Kelompok Profesi, dan ada kelompok lainnya.

Mungkin selama ini tanpa sadar kami terlalu lama berdiri di barisan depan. Terlalu lama menjadi penggerak. Terlalu lama menjadi pelaksana.

Padahal di sekitar kita banyak orang baik yang juga memiliki kemampuan dan semangat untuk bergerak. Mungkin sekarang saatnya kami mundur satu langkah. Bukan untuk pergi. Tetapi untuk memberi ruang.

Memberi kesempatan kepada wajah-wajah baru. Memberi peluang bagi ide-ide baru. Memberi tempat bagi energi baru yang mungkin jauh lebih segar daripada yang kami miliki hari ini.

Kami lahir saat para penggerak di usia 20 tahunan, dan saat ini sebagian besar di usia 40 tahunan, bahkan ada yang menjelang pensiun.

Daku belajar dari banyak sahabat pegiat sosial lainnya. Ada komunitas yang memilih hiatus bertahun-tahun. Ada yayasan yang vakum karena para penggeraknya sedang fokus menjalani fase hidup yang lain.

Ada pendiri gerakan yang sejak pandemi belum kembali aktif hingga sekarang. Dan ternyata dunia tetap baik-baik saja.

Karena sesungguhnya yang paling penting bukanlah apakah sebuah Gerakan terus terlihat aktif.

Yang paling penting adalah apakah semangat kebaikan itu masih hidup di hati orang-orang yang pernah terlibat di dalamnya.

Hari ini, ketika Daku melihat kembali perjalanan Gerakan RSKO Peduli, yang saya rasakan bukan kesedihan. Yang saya rasakan justru rasa syukur.

Syukur karena pernah dipertemukan dengan begitu banyak orang baik. Syukur karena pernah menyaksikan bagaimana satu niat sederhana bisa tumbuh menjadi ratusan aksi sosial.

Syukur karena pernah menjadi bagian dari perjalanan yang mengajarkan bahwa membantu orang lain adalah salah satu cara terbaik untuk memahami arti hidup.

Empat belas tahun lalu kami menyalakan api kecil itu bersama-sama.

Hari ini api itu nyala lilin bukan nyala obor. Ia hanya sedang kami jaga dari kejauhan.

Memberinya waktu untuk beristirahat. Memberi kesempatan bagi penjaga-penjaga baru untuk datang. Dan jika suatu hari nanti api itu kembali menyala lebih terang, kami akan tersenyum.

Karena kami tahu, kebaikan tidak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya berpindah tangan. Dan hari ini, mungkin memang saatnya kami melepaskan genggaman itu sejenak.

Terima kasih untuk semua yang pernah berjalan bersama Gerakan RSKO Peduli.

Untuk setiap relawan yang rela kehilangan waktu istirahatnya. Untuk setiap donatur yang mempercayakan sebagian rezekinya. Untuk setiap sahabat yang pernah membantu tanpa meminta namanya disebut.

Empat belas tahun adalah perjalanan yang panjang. Dan perjalanan itu telah menjadi salah satu bagian terindah dalam hidup kami.

Sampai jumpa.

Bukan selamat tinggal.

Karena setiap kebaikan yang pernah ditanam, pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri untuk tumbuh kembali.

...

Salam Hangat 

Bro Agan - Andri Mastiyanto

Bagikan :